Korut: Australia Ikut-ikutan AS Isolasi Kami, Nuklir Ganjarannya



 Korea Utara kembali mengeluarkan ancaman akan menyerang dengan senjata nuklir kepada negara lain. Kali ini sasarannya adalah Australia.
Ancaman itu dirilis lewat media corong Kim Jong-un, KCNA yang mengutip juru bicara Menlu Korea Utara.

"Menlu Australia sudah melemparkan sekeranjang sampah ke muka DPRK (nama resmi Korut Democratic People of Republik of Korea). Kami harus mengambil langkah tegas," kata jubir menlu Korut seperti dilansir The Guardian, pada Minggu (23/4/2017).
"Jika Australia bersikeras ikut-ikutan AS untuk mengisolasi DPRK, kalian sedang bunuh diri. Karena wilayah Anda berada dalam jarak misil kami. Kami tak takut-takut akan serang nuklir ke negara Anda," lanjut pernyataan itu.
Juru bicara Partai Buruh Richard Marles mengomentari ancaman itu. Menurutnya pernyataan itu merupakan hal yang harus dikhawatirkan. Namun, ia memberi catatan bahwa Pyongyang sebelumnya pernah memberikan ancaman ke negara lainnya termasuk ke sekutunya China.
Meski demikian, Marles mengatakan konflik di Semenanjung Korea tidak semerta akibat langkah yang diambil AS.
"Saya pikir langkah diambil AS tidak lah terlalu buruk," kata Marles.
Ia juga percaya bahwa China akan mengambil tindakan jika problem di Korea Utara berlanjut.
Marles menambahkan interaksi ekonomi Global Australia tengah mendapat tekanan karena partner dagang terbesar adalah China, Jepang dan Korea Selatan.
"Jadi, kami jelas memiliki agenda penting terkait stabilitas di Semenanjung Korea," lanjutnya.
Pyongyang menuduh Canberra telah berlaku buta karena mengikuti langkah AS. Jubir Menlu Korut mengatakan agar Menlu Australia, Julie Bishop "harus berpikir dua kali" tentang konsekensi "dari lidahnya yang tajam."
Pernyataan itu mengatakan Australia melindungi kebijakan AS dan menuding Korut adalah akar dari krisis di Semenanjung AS.
"Pemerintah Australia telah buta dan bodoh karena sudah ikut-ikutan AS," lanjut pernyataan menlu Korut.
Ini bukan kali pertama Korut ancam Australia. Minggu lalu, Boshop mengatakan bahwa senjata nuklir Korea Utara adalah ancaman serius bagi Negeri Kanguru kecuali dihentikan oleh komunitas internasional.
Akibat dari pernyataan itu, KCNA melaporkan, "Bishop tak akan bisa dimaafkan karena telah melanggar undang-undang perdamaian dan Korut siap melakukan perlawanan."
Ancaman itu dikeluarkan saat Wapres AS Mike Pence berada di Australia. Hal itu menjadi perhatian dan mendominasi percakapan pada Sabtu antara PM Australia Malcom Turnbull dan Wapres AS Mike Pence. Turnbull mengatakan China harus mengerahkan segala upayanya di Korut.
Pence sendiri mengatakan kekuatan militer tak akan diambil untuk menyelesaikan masalah krisis nuklir Korut.
"Namun, pilihan itu sudah kami pikirkan," kata Pence. Meski demikian, ia menekankan bahwa AS lebih fokus mengambil langkah diplomasi.
Baca Yang Lain! ×

SUBSCRIBE & BAGIKAN KE TEMAN-TEMAN!

Berlangganan via email (gratis):

Sekilas tentang penulis : YANDE09

Hai saya YANDE09, salah satu penyumbang berita di MWAKTU.COM. Semoga dengan diterbitkannya website ini dapat menjadi sumber inspirasi dan informasi yang sangat bermanfaat khususnya di dunia pengetahuan umum.